Beranda / Berita Utama / Wamen Pariwisata Dukung Transformasi Barru Jadi Destinasi Wisata Unggulan, Andi Ina: Dari Daerah Persinggahan Menjadi Tujuan Kunjungan

Wamen Pariwisata Dukung Transformasi Barru Jadi Destinasi Wisata Unggulan, Andi Ina: Dari Daerah Persinggahan Menjadi Tujuan Kunjungan

JAKARTA – Tekad Pemerintah Kabupaten Barru untuk mengubah citra daerah dari sekadar wilayah persinggahan menjadi destinasi wisata unggulan mendapat respons positif dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam audiensi Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi tersebut, Bupati Andi Ina didampingi Sekretaris Daerah Barru A. Syarifuddin, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan dan Olahraga, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Barru. Audiensi tersebut dimanfaatkan untuk memaparkan potensi, tantangan, dan arah pembangunan sektor pariwisata yang saat ini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengawali pertemuan dengan menekankan pentingnya promosi digital dalam memperkenalkan destinasi wisata daerah. Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Pariwisata saat ini tengah mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama “Maya” yang akan menjadi asisten digital promosi pariwisata Indonesia.

Menurutnya, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyediakan data dan informasi destinasi wisata agar dapat menjadi referensi utama bagi wisatawan yang mencari tujuan perjalanan di Indonesia.

“Kalau nanti orang bertanya kepada Maya, ‘Kalau ke Sulawesi Selatan sebaiknya ke mana?’, kenapa tidak Barru yang muncul pertama? Ini yang harus kita dorong bersama. Daerah perlu aktif memberikan data dan informasi agar potensi wisatanya dikenal lebih luas,” ujar Ni Luh Puspa.

Selain promosi digital, Wakil Menteri Pariwisata juga menekankan pentingnya penguatan event berbasis budaya dan kearifan lokal sebagai instrumen untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Dalam paparannya, Bupati Andi Ina menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Barru dikenal sebagai daerah lintasan menuju Kota Parepare maupun kawasan wisata Toraja. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang kini ingin diubah melalui berbagai program pembangunan dan penguatan sektor pariwisata.

“Ketika saya dilantik menjadi Bupati Barru, saya langsung menggaungkan tagline ‘Singgah di Barru’. Karena selama ini orang hanya melewati Barru tanpa berhenti. Padahal untuk membuat orang singgah, tentu kita harus menyiapkan alasan mengapa mereka harus berhenti dan menikmati Barru,” ujar Andi Ina.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten Barru melakukan pembenahan wajah kota dan peningkatan penerangan jalan. Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari strategi menciptakan kesan pertama yang positif bagi para pengguna jalan yang melintas di wilayah Barru.

“Alhamdulillah sekarang Barru sudah jauh berbeda. Ketika orang melintas pada malam hari, mereka sudah bisa melihat wajah kota yang terang dan hidup. Ini langkah awal untuk membangun rasa penasaran dan ketertarikan masyarakat terhadap Barru,” katanya.

Bupati perempuan pertama di Kabupaten Barru itu juga memaparkan keunggulan konsep wisata tiga dimensi yang dimiliki daerahnya, yakni pegunungan, daratan, dan laut yang tersebar di tujuh kecamatan. Potensi tersebut diperkuat dengan keberadaan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) GURILA atau Gunung, Rimba, Lembah, dan Laut yang telah masuk dalam perencanaan pembangunan nasional.

“Barru memiliki kekayaan alam yang lengkap. Kami punya pegunungan yang indah, kawasan lembah, hutan, hingga garis pantai sepanjang 78 kilometer. Potensi ini menjadi modal besar untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Salah satu destinasi yang mendapat perhatian khusus dalam audiensi tersebut adalah Pulau Pannikiang di Kecamatan Balusu. Pulau ini memiliki ekosistem mangrove yang unik dan menjadi habitat ribuan kelelawar serta burung bangau yang hidup berdampingan dalam satu kawasan.

Sekretaris Daerah Barru A. Syarifuddin menjelaskan bahwa Pulau Pannikiang memiliki daya tarik konservasi yang sangat potensial untuk pasar wisatawan mancanegara.

“Pulau Pannikiang bukan sekadar wisata mangrove. Wisatawan mancanegara yang pernah kami dampingi sangat terkesan dengan fenomena koloni kelelawar yang hidup di kawasan tersebut. Ini merupakan potensi ekowisata kelas internasional,” ungkapnya.

Selain Pulau Pannikiang, Pemerintah Kabupaten Barru juga mempromosikan Lappa Laona sebagai destinasi unggulan dataran tinggi. Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut menawarkan hamparan padang hijau yang luas, udara sejuk, serta panorama alam yang memukau sehingga kerap dijuluki sebagai “Lolai-nya Barru”.

“Kami ingin mengembangkan Lappa Laona bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi sebagai kawasan ekowisata terpadu yang dikombinasikan dengan peternakan sapi perah, agrowisata, serta edukasi lingkungan,” kata Andi Ina.

Menurutnya, konsep tersebut juga dapat mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui produksi susu segar sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri pengolahan susu di Kabupaten Barru.

Dalam kesempatan itu, Bupati Andi Ina turut memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Barru, salah satunya sosok Colliq Pujié atau Retna Kencana yang dikenal sebagai tokoh perempuan penyelamat naskah epik dunia I La Galigo.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pariwisata menilai I La Galigo merupakan aset budaya dunia yang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan menjadi wisata berbasis budaya.

“I La Galigo sudah mendunia. Ini harus dipromosikan lebih kuat lagi. Bisa dibuat paket wisata, pertunjukan budaya hingga jejak sejarah yang membuat wisatawan datang untuk mengenal lebih jauh warisan budaya tersebut,” ujar Ni Luh Puspa.

Selain itu, Barru juga memiliki Desa Wisata Nepo yang dikenal sebagai kampung kecil Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie serta Desa Wisata Paccekke yang menyimpan sejarah perjuangan lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Sulawesi.

Dalam audiensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Barru turut menyampaikan sejumlah tantangan pengembangan pariwisata, terutama terkait keterbatasan fiskal dan kebutuhan infrastruktur menuju destinasi wisata. Meski demikian, Kementerian Pariwisata menilai Barru memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dilintasi jalur Kereta Api Trans Sulawesi, dan berada pada koridor destinasi unggulan Sulawesi Selatan.

Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Pariwisata membuka peluang kolaborasi melalui Politeknik Pariwisata Makassar untuk melakukan pendampingan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelatihan penyusunan paket wisata, digital marketing, pengembangan desa wisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pariwisata.

Menutup paparannya, Bupati Andi Ina menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata merupakan bagian dari strategi besar Pemerintah Kabupaten Barru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Barru meningkat dari 4,93 persen pada tahun 2024 menjadi 5,16 persen pada tahun 2025.

“Harapan kami sederhana, bagaimana Barru tidak lagi hanya menjadi daerah yang dilewati, tetapi menjadi daerah yang dicari dan dikunjungi. Dengan dukungan Kementerian Pariwisata, kolaborasi seluruh pihak, serta potensi yang kami miliki, kami optimistis Barru dapat tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan bahkan Indonesia,” pungkas Andi Ina.