Sosial Budaya

Kehidupan Beragama. Jumlah sarana peribadatan mengalami peningkatan yaitu 205 unit masjid tahun 1995 menjadi 223 unit tahun 2000, 237 unit tahun 2005, dan 256 unit tahun 2008. Demikian pula jumlah mushalla dan sejenisnya yang meningkat dari 49 unit tahun 1995 menjadi 52 unit tahun 2005, dan menjadi 63 unit tahun 2008. Jumlah gereja meningkat dari 2 unit tahun 1995 menjadi 3 unit tahun 2008. Pemeluk agama Islam mencapai 99 persen pada tahun 2008 dan hampir tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, selebihnya adalah pemeluk agama Kristen dan Budha. Jumlah kelompok pengajian dan majelis taklim juga mengalami peningkatan yakni dari 53 kelompok tahun 1995 menjadi 85 kelompok tahun 2008. Kelembagaan Masyarakat. Kelembagaan asli masyarakat meliputi berbagai pranata sosial gotong-royong dan tolong-menolong, ikatan patron-klien, serta bentuk-bentuk arisan. Kelembagaan yang dibentuk oleh program pembangunan juga berkembang dalam bentuk kelompok tani, kelompok peternak, kelompok nelayan, kelompok PKK, kelompok Posyandu, dan sebagainya. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat juga berkembang, pada tahun 2008 setidaknya berfungsi tujuh LSM. Adat-istiadat, Nilai dan Norma Sosial-budaya. Berbagai tradisi budaya telah berjalan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Barru, namun dalam dekade terakhir jenis dan intensitasnya cenderung berkurang. Jumlah jenis tradisi dan adat istiadat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Barru sebelum tahun 2000 sekitar 22 jenis dan pada tahun 2008 hanya 18 jenis yang bertahan. Selain itu, dari 18 jenis tersebut terdapat delapan jenis tradisi budaya dan adat istiadat yang cenderung mengalami kepunahan antara lain mallemmang, mabbette, seruling lontarak dan maggenrang riwakkang. Tradisi budaya dan adat istiadat yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat antara lain budaya yang terkait dengan aktivitas pertanian dan kelautan-perikanan seperti mappalili, mappadendang, maddojabine, massure, macceratasi, dan budaya yang terkait dengan keagamaan seperti aqiqah, mabbarasanji dan massikkiri pacci. Jumlah kelompok pelestari budaya mengalami peningkatan dari 10 kelompok pada tahun 2005 menjadi 17 kelompok pada tahun 2008. Kesetaraan Jender dan Peran Perempuan. Komposisi anggota DPRD menurut jenis kelamin mengalami peningkatan dari dua anggota perempuan pada tahun 2000 menjadi tiga anggota perempuan pada tahun 2008. Dalam pemerintahan, 40 persen pegawai adalah perempuan. Peran perempuan dalam organisasi profesi dan LSM, terlihat bahwa jumlah perempuan yang terlibat sebagai anggota secara umum lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran perempuan pada sektor publik relatif lebih kecil dibandingkan dengan peran laki-laki. Pada sektor pendidikan, jumlah perempuan buta-huruf lebih banyak dibanding laki-laki pada tahun 2003 yakni 15,77 persen dan 10,63 persen, pada tahun 2005 menjadi 15,40 persen berbanding 11,31 persen. Aspek lainnya yakni persentase perempuan yang menikah pada usia muda (16 tahun kebawah) cenderung menurun dari 29,57 persen pada tahun 2003 menjadi 24,96 persen pada tahun 2004 dan menjadi 24,65 persen pada tahun 2005. Persentase kepala rumah tangga perempuan mengalami penurunan dari 7,99 persen pada tahun 2003 menjadi 7,80 pada tahun 2004 dan 7,61 persen pada tahun 2005. Jumlah perempuan yang bekerja pada sektor primer mengalami penurunan dari 28,45 persen pada tahun 2003 menjadi 16,34 persen pada tahun 2004 dan menjadi 16,24 persen pada tahun 2005; sedangkan pada sektor tersier mengalami peningkatan dari 64,50 persen pada tahun 2003 menjadi 76,19 persen pada tahun 2004 dan 76,33 persen pada tahun 2005. Ketertiban dan Keamanan. Salah satu indikator tingkat keamanan suatu daerah adalah tingkat kriminalitas atau kejahatan yang terjadi di daerah tersebut. Kriminalitas yang terjadi di Kabupaten Barru mengalami penurunan yang berarti dari 1.581 kali pada 22 jenis/bentuk kriminalitas tahun 2007 menjadi 596 kali pada 13 jenis/bentuk kriminalitas pada tahun 2008. Jumlah tindakan kriminalitas yang mampu diselesaikan pada tahun 2007 mencapai 1.488 kasus atau mencapai 94,12 persen dan pada tahun 2008 mencapai 576 kasus atau mencapai 96,64 persen. Secara umum masyarakat Kabupaten Barru hidup dalam kondisi aman dan tertib serta memiliki kohesivitas sosial yang relatif kuat.