Demografi

Jumlah penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Barru tahun 1995 sebesar 149.912 jiwa dan meningkat menjadi 152.101 jiwa tahun 2000, 158.821 jiwa tahun 2005 dan menjadi 161.732 jiwa pada tahun 2008. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin pada tahun 1995 terdiri dari laki-laki sebanyak 71.526 jiwa dan perempuan 78.386 jiwa, sedangkan pada tahun 2000 terdiri dari laki-laki sebanyak 72.361 jiwa dan perempuan sebanyak 79.740 jiwa. Pada tahun 2005 dan 2008 komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin terdiri dari laki-laki sebanyak 76.377 jiwa dan 78.266 jiwa sedangkan perempuan sebanyak 82.444 jiwa dan 83.466 jiwa. Struktur umur. Penduduk usia produktif pada tahun 2006 mencapai 81.229 jiwa dan pada tahun 2007 mencapai 78.859 jiwa, sedangkan angka beban tanggungan mencapai 57,73 persen pada tahun 2003 dan 56,95 persen pada tahun 2007 serta menjadi 62,02 pada tahun 2008. Penduduk usia produktif dan angka beban tanggungan pada tahun 2025 diperkirakan mengalami peningkatan menjadi lebih tinggi proporsinya. Pertumbuhan penduduk. Penduduk Kabupaten Barru mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2008. Pertumbuhan penduduk yang terkecil dialami pada tahun 2005 sebesar 0,13 persen dan tertinggi pada tahun 2003 sebesar 3,01 persen. Pertumbuhan penduduk dalam siklus lima tahunan yaitu 0,61 persen pada tahun 1990-1995, 0,24 persen pada tahun 1995-2000, 0,13 persen pada tahun 2000-2005 dan 0,81 persen pada tahun 2005-2008. Pertumbuhan penduduk pada tahun 2015 diperkirakan 0,58 persen, pada tahun 2020 diperkirakan 0,57 persen dan pada tahun 2025 diperkirakan 0,55 persen. Kualitas manusia. Secara umum kualitas manusia diukur melalui pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Selama periode tahun 2004-2008, IPM Kabupaten Barru mengalami peningkatan dari 67,07 (2004), 67,48 (2005), 68,60 (2006), 68,97 (2007) dan 69,50 (2008). Meskipun nilainya meningkat dari tahun ke tahun, dari sisi peringkat jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Barru berada pada posisi 13 (2004), peringkat 14 (2005), peringkat 13 (2006), peringkat 14 (2007) dan tetap peringkat 14 (2008). IPM tersebut masih di bawah rata-rata provinsi dan nasional yang masing-masing 67,75 dan 68,86 (2004), 68,14 dan 69,57 (2005), 68,81 dan 70,08 (2006), 69,62 dan 70,66 (2007). Indeks pendidikan. Indeks pendidikan Kabupaten Barru, sebagai gabungan dari nilai angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, telah mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke tahun 2007, tetapi posisinya masih dibawah rata-rata indeks pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 2004 indeks pendidikan Kabupaten Barru sebesar 71,29 (Provinsi mencapai 71,44 dan Nasional mencapai 76,27), tahun 2005 sebesar 71,91 (Provinsi mencapai 71,96 dan Nasional mencapai 76,82), tahun 2006 sebesar 74,37 (Provinsi mencapai 73,07 dan Nasional mencapai 77,41), 2007 sebesar 74,37 (Provinsi mencapai 73,56 dan Nasional mencapai 77,84). Angka Melek Huruf. Nilai indikator angka melek huruf telah mengalami peningkatan dari 84,60 persen (2004), 85,20 persen (2005), 87,10 persen (2006) dan 87,26 persen (2007). Apabila dibandingkan dengan angka melek huruf rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan, pencapaian Kabupaten Barru sudah berada diatas rata-rata Provinsi yang nilainya 85,50 persen (2004) dan 86,24 persen (2007). Rata-rata Lama Sekolah. Indikator ini juga telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 rata-rata lama sekolah mencapai 6,70 tahun, pada tahun 2007 menjadi 7,20 tahun. Apabila dibandingkan dengan capaian rata-rata lama sekolah Provinsi Sulawesi Selatan, capaian Kabupaten Barru masih lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi yang nilainya 6,80 tahun (2004) dan 7,23 tahun (2007). Pada 2007, kinerja pendidikan SD/sederajat mencapai APM 97,48 persen (Provinsi mencapai 88,89 persen), APK 102,87 persen (Provinsi mencapai 95,25 persen), angka putus sekolah 3,11 persen (Provinsi 2,84 persen), rasio murid/guru mencapai 11 (Provinsi mencapai 17) dan rasio murid/sekolah 103 (Provinsi mencapai 161). Indeks Kesehatan. Indeks kesehatan Kabupaten Barru sebagai bagian dari indikator IPM/kualitas manusia, juga menunjukkan peningkatan pada tahun 2004-2007, tetapi pencapaiannya masih dibawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional. Pada tahun 2004 nilai indikator ini sebesar 70,50 (Provinsi mencapai 72,83 dan Nasional mencapai 71,00), tahun 2005 sebesar 70,67 (Provinsi mencapai 72,83 dan Nasional mencapai 71,81), tahun 2006 sebesar 71,00 (Provinsi mencapai 71,00 dan Nasional mencapai 72,44), pada tahun 2007 sebesar 71,33 (Provinsi mencapai 74,00 dan Nasional mencapai 73,03). Angka Harapan Hidup. Nilai indikator ini juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, angka harapan hidup Kabupaten Barru sebesar 67,30 tahun, pada tahun 2005 sebesar 67,40 tahun, pada tahun 2006 sebesar 67,60 tahun, pada tahun 2007 sebesar 67,80 tahun, dan pada tahun 2008 sebesar 68,20 tahun. Dibandingkan dengan rata-rata angka harapan hidup Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008 sebesar 69,60 tahun, capaian Kabupaten Barru masih lebih rendah. Diproyeksikan bahwa angka harapan hidup Kabupaten Barru mampu mencapai 70,85 tahun pada tahun 2015, mencapai 72,74 tahun pada tahun 2020 dan menjadi 74,62 tahun pada tahun 2025. Daya Beli Masyarakat. Indeks daya beli masyarakat Kabupaten Barru juga masih berada dibawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional, namun telah terjadi peningkatan dari tahun 2004 hingga tahun 2007. Pada tahun 2004, nilai indeks daya beli masyarakat Kabupaten Barru sebesar 59,41 (Provinsi mencapai 58,98; Nasional mencapai 58,72), tahun 2005 sebesar 59,88 (Provinsi mencapai 59,35; Nasional mencapai 60,07), tahun 2006 sebesar 60,43 (Provinsi mencapai 59,70; Nasional mencapai 60,38), dan tahun 2007 sebesar 61,00 (Provinsi mencapai 61,29; Nasional mencapai 61,10). Dalam nilai nominal, angka daya beli masyarakat Kabupaten Barru meningkat dari Rp.617.100 (2004), menjadi Rp.619.100 (2005), Rp.621.500 (2006), Rp.624.00 (2007) dan Rp. 629.200 (2008). Angka daya beli masyarakat Kabupaten Barru berada dibawah rata-rata Provinsi yang bernilai Rp.630.800 (2008). Diproyeksikan angka ini mencapai Rp.733.700 tahun 2015, mencapai Rp.799.400 (2020) dan Rp.865.120 (2025). Kesejahteraan Sosial. Jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial cenderung bertambah dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2005 jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial sekitar 17.323 jiwa dan tahun 2008 menjadi 17.455 jiwa, meliputi fakir-miskin 4.816 jiwa, wanita rawan sosial 2.985 jiwa, lanjut usia terlantar 2.000 jiwa, anak terlantar 2.124 jiwa, keluarga rumah tidak layak huni 2.644 jiwa, penyandang cacat 1.075 jiwa, anak cacat 265 jiwa, penyandang cacat eks kronis 146 jiwa, keluarga rentan 325 jiwa, balita terlantar 205 jiwa, anak korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah 12 jiwa, bekas narapidana 51 jiwa, wanita korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah 6 jiwa, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana 348 jiwa, pengemis 4 jiwa, keluarga bermasalah psikologis 13 jiwa, korban bencana 385 jiwa dan waria 51 jiwa. Jumlah komunitas adat terpencil (KAT) di Kabupaten Barru sampai dengan tahun 2008 tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya yakni 150 KK, jumlah panti asuhan juga tidak mengalami perubahan yakni hanya empat unit hingga 2008. Kepemudaan dan Olahraga. Jumlah organisasi pemuda dan olahraga tidak mengalami perubahan berarti dalam lima tahun terakhir. Jumlah organisasi pemuda pada tahun 2000 mencapai 47 unit, pada tahun 2005 dan 2008 menjadi 54 unit organisasi; sedangkan jumlah organisasi olahraga pada tahun 2008 sebanyak 12 unit atau tidak bertambah secara nyata dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kehidupan Politik dan Demokrasi. Eksistensi partai politik mengalami dinamika pertumbuhan yakni dari 48 parpol pada tahun 2000 menjadi 22 parpol pada tahun 2005 kemudian meningkat lagi menjadi 34 parpol pada tahun 2008. Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan legislatif pada tahun 2004 mencapai 87.120 jiwa atau 82,70 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 105.350 jiwa, dan pada pemilihan presiden/wakil presiden mencapai 85.297 jiwa atau 80,05 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 106.555 jiwa. Pada pemilihan legislatif pada tahun 2009 mencapai 91.355 jiwa atau 72,59 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 123.858 jiwa dan pada pemilihan presiden/wakil presiden mencapai 97.642 jiwa atau 78,23 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 124.815 jiwa. Khusus pada pemilu kepala daerah/wakil kepala daerah pada tahun 2005, tingkat partisipasi pemilih mencapai 89.147 jiwa atau 81,45 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 109.446 jiwa. Keluarga Berencana. Jumlah kepala keluarga mengalami pertambahan dari 33.461 KK pada tahun 1995 menjadi 37.242 KK pada tahun 2000, 43.112 KK pada tahun 2005 dan menjadi 45.993 KK pada tahun 2008. Dari jumlah kepala keluarga tersebut, pasangan usia subur (PUS) sebanyak 21.527 (1995), 27.933 (2000), 27.282 (2005) dan menjadi 28.080 (2008). Jumlah peserta KB aktif tahun 1995 sebanyak 14.910 pasangan, tahun 2000 sebanyak 14.801 pasangan, tahun 2005 sebanyak 14.890 pasangan dan tahun 2008 mencapai 15.638 pasangan. Persentase peserta KB mengalami penurunan dari 69,26 persen tahun 2000 menjadi 55,69 persen pada tahun 2008. Administrasi Kependudukan. Jumlah penduduk yang telah memiliki KTP mencapai 64,13 persen pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 74,24 persen pada tahun 2008. Sedangkan jumlah penduduk yang telah memiliki akte kelahiran mencapai 70,19 persen pada tahun 1995 dan meningkat menjadi 74,49 persen pada tahun 2008. Pelayanan administrasi kependudukan dijalankan pada tingkat Desa/Kelurahan hingga Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.