Menhub Tinjau Rel Kereta Api Barru

Monday, 30 October 2017

SOPPENG RIAJA - Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi meninjau proyek Rel Kereta Api (RKA) di Desa Ajjakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Jumat (27/10/2017).

Budi bersama pejabat Dirjen Perhubungan tiba dengan menumpangi helikopter dan mendarat di Lapangan Mangkoso.

Dia disambut langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Barru, Ir Suardi Saleh dan Satker pembangunan RKA Barru, Henry serta pejabat OPD dan Forkopimda Pemkab Barru.

Budi mengungkapkan, progres pembangunan Rel Kereta Api (RKA) di Barru secepatnya akan diselesaikan, yakni sepanjang 47 tujuh kilometer dari Pekkae menuju pelabuhan Garongkong.

"Hari ini kita mengunjungi dan memastikan proyek 47 tujuh kilometer yang ada di sekitar Barru ini yang bisa dilaksanakan dalam dua tahun ini," kata Budi usai meninjau progres RKA di Desa Ajjakkang.

Ia menyebutkan, proyek yang akan dilaksanakan dalam dua tahun tersebut, Pemerintah menyiapkan Dua Triliun Rupiah untuk bisa menyelesaikan bangunan RKA sepanjang 47 Kilometer itu.

"Dalam proyek pembangunan dua tahun itu, Pemerintah menyediakan dua Triliun, untuk tahun ini sebanyak 1,4 Trilun dan tahun depan 600 Miliar. Harapannya agar bisa diselesaikan sepanjang 47 Kilometer sampai ke Pelabuhan Garongkong," katanya.

Proyek tersebut, kata Budi, akan dimulai dengan menggunakan fasilitas logistik.

"Kita akan mulai proyek ini dengan menggunakan fasilitas RKA itu untuk logistik. Logistik yang digunakan paling tidak ada tiga pabrik semen yakni Bosowa, Fajar dan Conch," ujar Budi. 

Selain itu, lanjut Budi, Pemerintah juga akan bekerja sama dengan investor swasta atau KBBU dalam menyelesaikan progres pembangunan RKA tersebut.

"Setelah kita selesaikan ini (progres RKA 47 Kilometer), kita akan bekerja sama dengan investor swasta yang asalnya bisa dari daerah di Indonesia maupun luar Negeri," ucapnya.

"Kita melakukan itu, agar ke depan kita bisa mendapatkan income, untuk mengangkut stun dan wiga, sehingga kita harapkan proyek ini bisa menjadi proyek KBBU atau kerja sama pihak swasta dan Pemerintah," sambung Budi.

Dia beralasan, bahwa proyek tersebut ingin dijadikan sebagai proyek KBBU karena pihak Pemerintah memiliki maksud tertentu.

"Kita tahu, banyak dana yang dibutuhkan dan APBN tidak cukup untuk mengkafer semuanya, oleh karenanya kita akan mengajak investor swasta untuk bekerja sama melakukan pembangunan RKA ini," lanjut Budi.

Budi menyebut, sudah ada beberapa investor swasta saat ini yang ingin melakukan kerja sama, hanya saja tender belum dibuka oleh Pemerintah.

"Tercatat sudah ada beberapa investor yang ingin kerja sama mulai dari BUMN, BUMD, ada swasta Sulsel, bahkan ada dari luar Negeri terutama Korea yang intensif melakukan diskusi dengan kita, tapi tender belum kita buka," ujarnya.

Pemerintah berencana baru akan membuka tender untuk investor swasta atau KBBU itu setelah proyek RKA di Pelabuhan Garongkong selesai.

"Mungkin bulan Februari baru kita akan buka, jadi begitu selesai proyek 47 Kilometer yang menuju Garongkong di akhir Desember 2018, pembangunan kita teruskan dengan KBBU yang kita tender itu," katanya.

Budi mengatakan, setelah RKA menuju pelabuhan Garongkong tuntas, pembangunan selanjutnya akan dilakukan dari Barrumenuju Maros sepanjang 100 Kilometer.

"Jadi yang akan kita selesaikan nanti setelah di Garongkong yaitu dari Barru ke Maros kemudian selanjutnya baru ke arah Parepare, dengan menggunakan KBBU," ujarnya.

Secara keseluruhan, dana pembangunan RKA tersebut mencapai sekitar delapan Triliun Rupiah.

"Empat Triliun akan dicairi Pemerintah, sedangkan empat Triliun berikutnya oleh KBBU," tutur Budi.

Pantauan tribunbarru.com, peninjauan progres RKA tersebut belangsung hingga malam.

Usai melakukan peninjauan RKA di Ajjakkang, Budi beserta rombongan kemudian menuju ke Pelabuhan Garongkong dengan tujuan yang serupa.

(TribunBarru.com, Akbar HS)